There is no – Time out in Life

Saat saya jenuh dengan rutinitas kota, Kamis kemarin tiba-tiba saya memutuskan untuk naik gunung, pegunungan Dieng tepatnya. Yap, pegunungan adalah kantor pusat saya merefleksikan diri, mengintropeksi dan me-retropeksi segala apa yang telah terjadi dalam diri dan lingkungan saya.

Segala yang telah, sedang dan akan saya lakui termuntahkan. Pandangan saya terpaku pada mentari pagi. Sinarnya melintasi batas pikiran yang selalu menggelora. Melayang dan berpengharapan. Saya membayangkan jika uang itu disebar dari atas tebing ini. Dan jika ada suatu bank memberikan poin reward sejumlah 86.400 tiap harinya. Tiap poin yang diberikan bernilai seribu rupiah. Pasti sangat menyenangkan bukan. Namun bank yang istimewa ini memiliki peraturan bahwa poin tersebut harus dihabiskan pada hari itu juga. Apapun sisanya pada hari itu, akan hangus semua. Keesokan harinya, rekening kita akan diisi kembali oleh bank senilai 86.400 poin. 86.400 poin bila dirupiahkan senilai Rp. 86.400.000,00.

Hmm., delapan puluh enam juta empat ratus ribu rupiah dalam satu hari harus dihabiskan. Apa yang akan saya lakukan dengan uang sebanyak itu setiap harinya? Saya pasti akan menghabiskannya sampai rupiah terakhir, dengan asas kemanfaatan tentunya. Toh besok bank akan mengisi rekening saya kembali.

Jika kita analogikan bank tersebut adalah WAKTU. Setiap hari, kehidupan ini memberikan semua manusia deposito yang sama yaitu 86.400 detik. Setiap malam setiap siang, waktu yang tidak dipergunakan akan menjadi mubazir untuk hari itu. Dan keesokan harinya kita diberi waktu yang sama lagi tanpa memperhitungkan sisa waktu yang tidak terpakai kemarin. Jika kita tidak memanfaatkan waktu yang diberikan, sudah jelas kerugian ada di tangan kita. Kita tidak dapat memutar mundur waktu atau memberhentikannya bahkan satu detik saja.

Hidup bukanlah seperti komputer, kita dapat me-restartnya. Dalam kehidupan manusia, setiap orang mempunyai tiga frame waktu, yaitu past (masa lampau), present (saat ini), dan future (masa depan). Merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan bila kita hidup dalam masa lampau. Hal positif yang dapat kita tarik dalam masa lampau adalah jika kita mampu belajar dari pengalaman kita dan memperbaikinya dikemudian hari. Demikian pula pada masa depan, janganlah kita sibuk mereka-reka apa yang akan terjadi, yang ada hanyalah kekhawatiran yang tak kunjung usai.

Semua orang tidak ada yang ingin hidup dalam penyesalan dan kekhawatiran. Setuju? Jika pendapat kita sama, kita harus menyelesaikan apa yang harus kita lakukan hari ini. Ambil tindakan terhadap 86.400 poin anda dan habiskan poin anda dengan usaha terbaik. Saat usaha terbaik telah kita kerahkan, tiada lagi penyesalan karena kita telah mencoba semuanya. Sekeping kekhawatiran mungkin terjadi, namun ingatlah bahwa "Kau Telah Berusaha! dan Allah Maha Pengasih." Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Penyesalan dan kekhawatiran pada masa lalu dan masa depan ditentukan dari apa yang kita lakukan hari ini. So, pergunakanlah waktu ini sebaik-baiknya! Hingga saat pemilik bank menghentikan pemberian 'poin reward' kepada kita. Kita dapat mempertanggungjawabkan penggunaan 'poin reward' yang telah diberikan-Nya.

Dedicated to :

Almarhum Mbah Sastro Utomo,

* terima kasih pada-Mu Robb ku yang telah memberiku kesempatan untuk melihat beliau pada sisa akhir waktu..


2 comments:

~eshu mengatakan...

innalillahi wa innailayhi roo ji'uun, semoga mbahmu diterima Allah SWT

aamiiiin :)

Rani Zaoldyeck mengatakan...

aamiin.. jazakillah khair yo..

^ ^

Posting Komentar

 
;