2 comments

Panggilan Belahan Jiwa


Oleh Anis Matta

Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan suratan nasib yang membuat kita saling mencintai satu sama lain.

Karena takdir itulah setiap bagian dari dunia ini bertemu dengan pasangannya.

Dalam pandangan orang-orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan; bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit.

Jika bumi kekurangan panas maka langit mengirimkan panas kepadanya; jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit memulihkannya.

Langit memayungi bumi layaknya seorang suami yang menafkahi istrinya; dan bumi pun sibuk dengan urusan rumah tangga; ia melahirkan dan menyusui segala yang telah ia lahirkan.

Erich Fromm mengutip syair Jalaluddin Rumi itu dalam bukunya, The Art of Loving. Cinta, kata Fromm, adalah kebutuhan eksistensial manusia untuk mengatasi masalah “keterpisahannya” sekaligus kerinduannya akan kesatuan. Tapi dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, cinta bukan hanya kebutuhan eksistensial, tapi juga berbaur dengan kebutuhan biologis: hasrat kesatuan dari kutub-kutub maskulin dan feminim. Karena dalam diri laki-laki dan perempuan terkandung prinsip menerima dan penetrasi, baik atas hal material maupun spiritual, maka mereka menemukan kesatuan dalam dirinya hanya dalam kesatuan atas polaritas kelelakian dan keperempuanan. Polaritas inilah, kata Formm, yang menjadi dasar dari segala kreativitas.

Tapi saat hubungan murni ini terganggu oleh tirani sosial yang melahirkan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, tiba-tiba kaum feminis membawa bias ini: harus ada perlawanan untuk merebut kesetaraan itu. Itu tafsir paling sentimentil atas fenomena kezaliman dalam masyarakat. Kesetaraan itu mungkin saja tercapai. Tapi korbannya juga sadis: lubang keterpisahan itu makin menganga lebar, dan hidup berujung dalam kesendirian dan kesunyian menyiksa.

Cinta mengajarkan kita untuk memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat kita genap menggenapi, dan saling menyempurnakan karya kehidupan. Dan persoalan kesetaraan menjadi tidak relevan di tengah hidup yang bergerak kreatif begitu menuju kesatuan dan kesempurnaan.

Simaklah senandung Rumi kembali:

Tak ubahnya langit dan bumi dikaruniai kecerdasan; karena mereka melaksanakan pekerjaan makhluk yang memiliki kecerdasan.

Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan; mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih ?

Sebagimana Tuhan memberikan hasrat pada laki-laki dan perempuan sehingga menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka,

Tuhan juga menanamkan ke semua eksistensi, hasrat untuk mencari belahannya.

Masing-masing saling mencintai untuk menyempurnakan karya bersama mereka.


Sumber : Tarbawi Edisi 90 Th. 5/Jumadil Tsaniyah 1425 H/5 Agustus 2004 M


Dedicated to :

Yang lagi manggil-manggil belahan jiwanya ^ ^

Sahabat, proses ta'aruf itu ibarat olahraga hati. Mintalah kepada Sang Penggenggam dan Pembolak-balik Hati agar Ia senantiasa menjaga hatimu agar selalu sehat, kuat, dan bersemangat.


0 comments

Rumah kamu yang mana?



Ada tiga macam rumah, pertama rumah raja, di dalam rumah tersebut banyak tersimpan harta sang raja, perhiasan, mahkota, intan dan berlian. Rumah kedua adalah milik seorang hamba, di dalamnya ada simpanan, tabungan dan perhiasan yang tidak sebanyak yang dimiliki seorang raja. Dan rumah ketiga adalah rumah kosong yang tidak ada isinya.

Jika datang seorang pencuri, rumah mana yang akan dimasukinya?

Apabila antum menjawab ia akan masuk rumah yang kosong, tentu suatu hal yang tidak masuk akal, karena rumah kosong tidak ada barang yang bisa dicurinya.

Karena itulah dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu, bahwa ada orang-orang Yahudi mengklaim bahwa di dalam shalat, mereka 'tidak pernah terganggu', Maka Ibnu Abbas berkata: "Apakah yang bisa dikerjakan oleh syetan dalam rumah yang sudah rusak?"

Bila jawaban antum adalah: "Pencuri itu akan masuk rumah raja." Hal tersebut bagaikan sesuatu yang hampir mustahil, karena tentunya rumah raja dijaga oleh penjaga dan tentara, sehingga pencuri tidak bisa mendekatinya.

Bagaimana mungkin pencuri tersebut mendekatinya sementara para penjaga dan tentara senantiasa siap siaga di sekitar raja?

Sekarang tinggal rumah kedua, maka hendaklah orang-orang berakal memperhatikan permisalan ini sebaik-baiknya, dan menganalogikan rumah dengan hati.

Rumah yang kosong diibaratkan sebagai hati yang kosong. Hati yang kosong dari kebajikan, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, adalah rumah setan, yang telah menjadikannya sebagai benteng bagi dirinya dan sebagai tempat tinggalnya. Maka adakah hasrat untuk mencuri dari rumah itu sementara yang ada didalamnya hanyalah peninggalan setan, simpanannya dan gangguannya?

Hati yang telah dipenuhi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta'ala dan keagungan-Nya, penuh dengan kecintaanNya dan senantiasa dalam penjagaan-Nya dan selalu malu darinya, Syetan mana yang berani memasuki hati ini? Bila ada yang ingin mencuri sesuatu darinya, apa yang akan dicurinya? Ini analogi untuk rumah pertama, rumah Sang Raja. Namun janganlah beranggapan rumah sang raja akan aman. Pencuri kecil memang tidak berani memasuki rumah raja, namun raja dari negara lain dengan kekuatan yang sama bisa menggempur rumah raja. Semakin tinggi kualitas keimanan seseorang, semakin tinggi pula pangkat syetan yang menggodanya.

Lalu bagaimana dengan rumah kedua? Rumah kedua dianalogikan sebagai hati yang di dalamnya ada tauhid Allah, mengerti tentang Allah, mencintaiNya, dan beriman kepadaNya, serta membenarkan janjiNya, Namun di dalamnya ada pula syahwat, sifat-sifat buruk, hawa nafsu dan tabiat tidak baik. Hati ini ada diantara dua hal. Kadang hatinya cenderung kepada keimanan, ma'rifah dan kecintaan kepada Allah semata, dan kadang condong kepada panggilan syetan, hawa nafsu dan tabiat tercela. Yupp.. kalau teman-teman mau menebak.

Hati semacam inilah yang dicari oleh syetan dan diinginkannya. Dan Allah memberikan pertolongan-Nya kepada yang dikehendakiNya.
"Dan kemenanganmu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi maha bijaksana." (Ali Imran:126)

Syetan tidak bisa mengganggunya kecuali dengan senjata yang dimilikinya, yang dengannya ia masuk dalam hati. Di dalam hati seperti ini syetan mendapati senjata-senjatanya yang berupa syahwat, syubhat, khayalan-khayalan dan angan-angan dusta yang berada di dalam hati.

Saat memasukinya, syetan mendapati senjata-senjata tersebut dan mengambilnya serta menjadikannya menetap di hati. Apabila seorang hamba mempunyai benteng keimanan yang mengimbangi serangan tersebut, dan kekuatannya melebihi kekuatan penyerangnya, maka ia akan mampu mengalahkan syetan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata.

... La haula wala Quwwata illa billah ...
2 comments

Jauh di nyata dekat di fesbuk


Banyak social network yang berkembang pesat, efbie salah satu contohnya. Jika di dunia nyata interaksi ikhwan akhwat lebih terjaga, namun (berdasarkan laporan teman saya yang diamanahkan memegang divisi efbie) interaksi ikhwan akhwat di efbie justru sangat lepas. Sangat lembut dan halus. Tanpa disadari, saling tebar pesona dan percikan riya berriak disana. Mereka bebas bercanda, tertawa, seolah-olah menampakkan kedekatan. Tidakkah mereka mengingat bahwa ada pengawasan Allah disana. Dimana sikap muraqobatullah mu !!!

Berangkat dari saling menasehati, saling mentausiyahi serta saling menolong dan mendorong dalam kebaikan. Tentunya alasan itu dapat dibenarkan, karena memang seorang saudara memiliki hak persaudaraan atas saudara lainnya. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan, agar tidak melayangkan para ikhwan dan akhwat ke sebuah lembah yang jauh dari kemuliaan di mata Allah. Ingatlah, bunga-bunga kemaksiatan juga dapat tumbuh dan mekar ditanah kebaikan. Bukankah itu salah satu tipu daya jitu syaithan.

Sesungguhnya, tabir pembeda antara interaksi yang murni berlandaskan ukhuwah islamiyah dengan interaksi yang berbumbu niat-niat lain ataupun interaksi iseng-iseng saja sangatlah tipis. Hanya diri kita sendiri dan Allah sajalah yang tahu maksud sesungguhnya. Oleh sebab itu, kita harus banyak bertanya dan jujur pada diri kita sendiri. Apakah yang kita lakukan sudah benar, atau kita hanya mencari pembenaran? Chatting rindu dapat saja berjubah chatting ukhuwah atau dakwah. Innalillahi..

Tak dapat dipungkiri pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi. Hal itu bisa disebabkan karena mereka belum mengetahui batas-batas pergaulan antara ikhwan akhwat. Bisa juga mereka telah mengetahui, namun belum memahami. Atau mereka telah mengetahui namun tidak mau mengamalkan. Dan yang lebih parah, beberapa diantara mereka sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Penanganan yang lalai-lalai ini harus diprioritaskan. Beda zaman beda godaan beda penanganan. PR untuk kita, untuk menjaga izzah mereka. Hmm.. satu pesan saya untuk saya pribadi, untuk jamaah fesbukiyah, dan untuk jamaah elektronikiyah lainnya, "Jagalah Allah, jagalah aturan-aturan-Nya dan berkomitmenlah terhadap segala perintahnya serta jauhilah segala larangannya."

0 comments

Sebatang bambu itu kamu !


Mungkin teman-teman ada yang pernah mendengar kisah ini. Kisah tentang sebatang bambu ini kerap kakak saya ingatkan saat saya merasa pudung, 'sakit' hingga merasa ndak tau lagi musti bagaimana. Kata-kata terakhir beliau adalah '"Sebatang bambu itu kamu!" dan kristal bening itupun retak mengalirkan bulir-bulir keharuan. Mari kita simak kisah sebatang bambu yang membuat kedua mata ini kembali menatap mentari.

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu." Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..... ,

kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul.

Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."


0 comments

Bismillah.. Bi'idznillah..

Malam Ahad lalu, saya mendapat pesan singkat yang terbaca :
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah seseorang yang meninggalkan sesuatu yang diharamkan Allah SWT.'

Saya mengerti nasihatnya, lembar demi lembar satu dari buku lama ku eja. Kembali mengingatkan pada semua, kembali meluruskan yang tergeser, kembali menambal yang tertanggal.


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
( Al Baqarah : 218 )


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan dimuka bumi atau mereka berperang, 'kalau mereka tetap bersama kita, tentu mereka tidak akan mati dan tidak akan dibunuh.' Akibat (dari perkataan dan keyajinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Dan sungguh kalau kamu gugur dijalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik bagimu dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah kamu semua dikumpulkan."
(Ali Imran: 156-157)


"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."
(At Taubah : 20)


"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(An Nisa : 100)


"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka dan mereka bergembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka yang belum menyusul, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati ."
(Ali Imran: 169-170)



"Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang dijalan Allah, lalu gugur dan memperolah kemenangan, maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar."
(An-Nisa: 78)



"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang. Dengan begitu, kamu menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu."
(Al-Anfal: 60)


" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
( Al-Anfal : 72 )

Dari Abdullah bin Abu Aufa ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda, "Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah kilatan pedang." (HR. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud)


Dari Rasyid bin Sa'ad ra. Dari salah seorang sahabat bahwa seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa orang-orang mukmin mendapat ujian di kuburnya kecuali orang yang mati syahid?" Rasulullah saw. Bersabda, "Cukuplah kilatan pedang yang melintas di atas kepalanya sebagai ujian." (HR. Nasa'i)

Bismillah, Bi'idznillah, Allahu Akbar !!!


Taken from :
Al Quran & Hadits, serta Kitab Risalah Jihad,
sebagai luapan cinta Mujaddid Ummah, Al-Imam Hassan Al-Banna.

Dedicated to :
Para pecinta jihad dan perindu syahid ..

0 comments

Cemburu Mu

Adalah rindu pada bunga malam yang mekar dari pucuk ketauhidan,

mewangi meranum benih-benih ketaatan,

berbuah manis dalam segar tepian Al Kautsar


Adalah kasih dalam tiap oksigen yang kau raih,

menyatu dalam darah mengalir jernih,

menghadirkan hati tanpa sedetikpun memaknai pamrih


Adalah sayang pada kepercayaan yang dipegang,

ditiap derap-derap tatih petualang,

membakar azzam pancangkan tonggak-tonggak untuk berjuang


Adalah resah membersamai gundah yang kau padu

dalam syair penggangu lalaikan nada-nada merdu aksara pemandu,

sudikah engkau mengejanya lima menit untuk-KU


Adalah cemburu mencumbu pekat malam nan syahdu,

dalam lelap dibingkai waktu yang berpacu,

tatkala pulas kau menangkan dari perbincangan dengan KU,,


Andai saja kau tahu,

“Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah ‘azza wa jalla.” *

maka, Ingatlah untuk tidak membuat-Nya cemburu karena kekasih-Nya pun berpesan

“Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” **

REMEMBER HIM WHEREVER YOU ARE

* HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003

** HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003

0 comments

Tanyalah pada senja


Tanyalah pada senja, siapa yang mewarnai mega, mengekang awan dan mengaraknya dalam megah lazuardi saga.

Tanyalah pada gunung, siapa yang memulakan debu, menghimpun dalam batu dan memisahkan dalam keadaan tinggi menjulang.

Tanyalah pada lebah, siapa yang menyematkan sengat, memberi pati bunga dan mengenalkan madu pada sarangnya.

Tanyalah pada lembah, pada putik bunga dan pada embun, siapakah yang melembutkan dan mengindahkan pesonanya.

Tanyalah kepada angin, serta bumi dan langit, dan tanyalah pada segala sesuatu, engkau akan mendengar pujian riuh berkumandang.

Maka,

Seandainya malam menjadi gelap dan memanjang, siapakah selain Rabbku yang bisa mengembalikan mentari kepangkuan langit sekali lagi.

: Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah :

Tak ada tempat untuk hamba bernaung hanya pada-Mu dzat yang Maha Agung
Tak ada tempat untuk hamba bersandar hanya pada-Mu dzat yang Maha Besar
Wahai.. dzat yang Maha Sempurna
Engkau Maha Tahu atas segala sesuatu yang hamba tahu
Hamba yakin kesemuanya adalah anugrah dan rahmat-Mu


 
;